Pasuruan, 30 Maret 2026 — Mengawali hari pertama masuk kerja pasca libur Idulfitri dan penerapan Work From Anywhere (WFA) selama tiga hari, Kantor Urusan Agama (KUA) Kraton menggelar apel pagi yang diikuti oleh seluruh pegawai. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kerja sekaligus merefleksikan nilai-nilai spiritual usai Ramadan.
Apel dipimpin langsung oleh Kepala KUA Kraton, H. M. As’ari, S.Ag., M.Pd.I. Dalam amanatnya, beliau mengangkat kearifan lokal tradisi Jawa, khususnya makna Lebaran Kupat atau ngaku lepat, sebagai simbol pengakuan kesalahan dan upaya saling memaafkan.
“Tradisi kupatan bukan sekadar budaya, tetapi sarat makna spiritual. Ini adalah pengingat bahwa setelah Ramadan, kita kembali ke fitrah dengan hati yang bersih,” ujarnya.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan filosofi “Empat Lebaran” (Laku Papat) dalam tradisi kupatan, yang mencerminkan nilai-nilai luhur kehidupan. Pertama, Lebaran, yang menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadan. Kedua, Luberan, yang mengandung makna berbagi rezeki dan memperbanyak sedekah. Ketiga, Leburan, yaitu melebur dosa melalui saling memaafkan. Dan keempat, Laburan, sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin.
Menurutnya, keempat nilai tersebut tidak hanya relevan secara kultural, tetapi juga selaras dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya kesucian hati, kepedulian sosial, dan rekonsiliasi antarsesama.
“Semangat laku papat ini hendaknya menjadi landasan dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara, khususnya dalam memberikan pelayanan keagamaan yang humanis dan berintegritas,” tambahnya.
Apel perdana ini berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan, mencerminkan semangat baru seluruh pegawai KUA Kraton untuk kembali menjalankan tugas dengan dedikasi tinggi, sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.



Posting Komentar untuk "Apel Perdana Pasca-Idulfitri, KUA Kraton Teguhkan Nilai Spiritual dan Pelayanan Berintegritas"