Pasuruan, Jawa Timur — Kamis, 19 Februari 2026, Kementerian Agama Kabupaten Pasuruan menggelar kegiatan Kajian Ramadan bertema “Kompetensi Ruhaniah: Momentum Ramadan 1447 H/2026 M”. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diawali dengan sholat berjamaah bersama, kemudian dilanjutkan dengan pembinaan spiritual yang diikuti seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di bawah naungan Kemenag Kabupaten Pasuruan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kemenag Kabupaten Pasuruan, H. Achmad Samthon, S.H.I., M.Ag, dalam sambutannya menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum strategis untuk memperkuat integritas, etos kerja, serta kualitas ruhani para ASN.
“ASN Kementerian Agama harus menjadi teladan, bukan hanya dalam profesionalitas kerja, tetapi juga dalam akhlak dan spiritualitas. Kompetensi ruhaniah menjadi fondasi utama dalam memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia juga dikenal sebagai salah satu pimpinan Kemenag yang memiliki kompetensi di bidang bahtsul masail (kajian hukum Islam), sehingga pembinaan yang dilakukan tidak hanya administratif, tetapi juga berbasis pendalaman nilai-nilai keislaman.
Keistimewaan Bulan Ramadan
Kajian inti disampaikan oleh Pengasuh Ponpes Raudlatul Ulum Besuk Kejayan Pasuruan, KH. Muhibbul Aman Ali. Dalam tausiyahnya, beliau menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar ibadah ritual tahunan, melainkan madrasah pembentukan kompetensi ruhaniah—yakni kemampuan menjaga hati, pandangan, dan perilaku dari segala bentuk maksiat.
“Keistimewaan bulan Ramadan terletak pada terbukanya pintu ampunan, dilipatgandakannya pahala, serta dibukanya pintu surga. Namun semua itu harus diraih dengan kesungguhan ibadah,” ungkapnya.
Dosa Kecil dan Konsekuensinya
Dalam pemaparannya, KH. Muhibbul Aman Ali mengingatkan agar umat Islam tidak meremehkan dosa kecil. Salah satu contoh yang disampaikan adalah melihat aurat perempuan yang bukan mahram, yang kerap dianggap sepele namun tetap tergolong dosa.
“Jangan meremehkan dosa kecil. Dalam berbagai riwayat dijelaskan bahwa siksa paling ringan di neraka pun tetaplah pedih,” tegasnya.
Beliau menambahkan bahwa dalam penjelasan para ulama disebutkan:
-
Siksa paling ringan di neraka tetap membawa penderitaan luar biasa.
-
Satu hari di akhirat digambarkan setara dengan seribu tahun kehidupan di dunia.
Pesan tersebut menjadi pengingat agar umat Islam semakin berhati-hati dalam menjaga pandangan dan perilaku, terlebih di era modern yang sarat tantangan moral dan visual.
Pandangan Ulama tentang Lailatul Qadar
Dalam kajian tersebut, beliau juga mengutip pendapat ulama klasik mengenai kemungkinan turunnya Lailatul Qadar. Mengacu pada pandangan Imam Al-Ghazali, apabila awal Ramadan jatuh pada hari Kamis, maka Lailatul Qadar berpeluang terjadi pada malam ke-25.
Sementara Ibnu arabi berpendapat bahwa jika Ramadan dimulai pada hari Kamis, maka Lailatul Qadar bisa jatuh pada malam ke-23.
Meski demikian, beliau menegaskan bahwa waktu pastinya tetap menjadi rahasia Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan seluruh malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Seruan Peningkatan Kualitas Ruhani ASN
Kajian Ramadan ini ditutup dengan ajakan agar para ASN Kemenag menjadikan Ramadan 1447 H sebagai titik balik peningkatan kualitas ruhani sekaligus integritas dalam pelayanan publik.
“Ramadhan adalah madrasah. Siapa yang lulus, ia kembali fitrah dan mendapat jaminan keselamatan. Siapa yang lalai, ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga,” pungkas KH. Muhibbul Aman Ali.
Kegiatan berlangsung penuh kekhusyukan dan mendapat sambutan antusias dari seluruh peserta. Diharapkan, kajian ini mampu memperkuat karakter spiritual ASN Kemenag Kabupaten Pasuruan dalam menjalankan tugas dan pengabdian kepada masyarakat secara profesional, berintegritas, dan berakhlakul karimah. Ria/red



Posting Komentar untuk "Kemenag Kabupaten Pasuruan Gelar Kajian Ramadan 1447 H, Perkuat Kompetensi Ruhaniah ASN"