Kultum Ramadhan: H. M. As’ari Tegaskan Hakikat Iman sebagai Fondasi Utama Ibadah

Pasuruan – Senin 23 Februari 2026,Momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman keagamaan umat. Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kraton, H. M. As’ari, S.Ag., M.PdI, menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum) bertema “Memahami Hakikat Iman sebagai Kebutuhan Mendasar bagi Setiap Muslim.” Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa iman merupakan fondasi utama setiap ibadah agar tetap berada di atas landasan syariat yang benar.

Menurut H. M. As’ari, iman tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan, tetapi harus tertanam kuat dalam hati dan dibuktikan melalui amal perbuatan. “Ibadah tanpa pemahaman iman yang benar akan kehilangan ruh dan arah. Karena itu, setiap Muslim wajib memahami hakikat iman secara utuh,” ujarnya di hadapan jamaah.

Pengertian Iman Secara Bahasa

Secara etimologi, iman berasal dari kata at-tashdiq yang berarti membenarkan. Selain itu, iman juga bermakna al-iqrar, yaitu menetapkan atau mengakui dengan penuh rasa aman.

H. M. As’ari menjelaskan bahwa seseorang yang beriman akan merasakan ketenangan batin terhadap kebenaran yang diyakininya. Namun, iman dalam ajaran Islam tidak berhenti pada pembenaran semata. Iman menuntut ketundukan, kepatuhan, serta kerelaan hati terhadap seluruh ajaran Allah ﷻ dan Rasul-Nya.

Definisi Iman Menurut Istilah Syariat

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, iman memiliki tiga pilar utama yang tidak dapat dipisahkan:

  1. Keyakinan dalam hati

  2. Pengucapan dengan lisan

  3. Pengamalan dengan anggota badan

Ketiga unsur tersebut saling melengkapi dan membentuk kesatuan yang utuh. Dalil mengenai hal ini terdapat dalam firman Allah ﷻ pada Surah Al-Anfal ayat 2:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)

Ayat tersebut menegaskan bahwa iman berkaitan erat dengan kondisi hati, respons lisan, dan sikap nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Iman Bisa Bertambah dan Berkurang

Dalam kultumnya, H. M. As’ari juga menekankan bahwa iman bersifat dinamis. Ia dapat bertambah melalui ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.

Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّريقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu ada tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘La ilaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa iman mencakup dimensi lisan, perbuatan, dan hati secara bersamaan.

Kesimpulan dan Hikmah

Di akhir tausiyahnya, H. M. As’ari mengajak umat Islam untuk menjaga keseimbangan antara hati, lisan, dan perbuatan dalam menjalani kehidupan beragama. Ia mengingatkan agar tidak terjebak pada pemahaman keliru yang memisahkan iman dari amal.

Ramadan, lanjutnya, merupakan momentum terbaik untuk memperkuat fondasi keimanan melalui ibadah puasa, salat malam, tilawah Al-Qur’an, serta kepedulian sosial. Dengan iman yang kokoh dan terus dipupuk melalui ketaatan, seorang Muslim akan meraih keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.

Kultum tersebut diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat, khususnya di wilayah Kraton dan Kabupaten Pasuruan, untuk terus memperbaiki kualitas iman sehingga setiap ibadah yang dilakukan benar-benar bernilai di sisi Allah ﷻ. Ria/red

Posting Komentar untuk "Kultum Ramadhan: H. M. As’ari Tegaskan Hakikat Iman sebagai Fondasi Utama Ibadah"